Senin, 07 Januari 2008

Menciptakan Angkutan Perkotaan Humanis

Salah satu implikasi krisis ekonomi Indonesia tahun 1997 adalah menurunya daya beli dan mobilitas masyarakat. Kondisi ini ternyata berdampak pada sektor transportasi umum Indonesia, khususnya angkutan umum perkotaan.
Data angkutan kota berbagai jenis di Surabaya adalah sebagai berikut; Taksi 6.044, Bus kota 373 buah, Angguna 438 buah, dan Mikrolet 5.253. Data itu menunjukan bahwa 40 persennya tidak bisa difungsikan dan diparkir di garasi karena alasan bahan bakar naik dan penumpang lebih memilih beralih ke angkutan sepeda motor yang lebih mudah diperoleh dengan jalan di kredit.
Jika pertanyaan mengapa mereka memilih sepeda motor atau naik dan membeli mobil pribadi, maka jawaban dari pertanyaan itu bukan satu. Oleh karena itu pengelola angkutan perkotaan dan pemerintah yang selama ini menjadi komando berbagai kebijakan mestinya melakukan kajian terhadap kondisi itu, termasuk ketika Jawa Pos memuat foto terminal Joyoboyo. Mengapa hal ini terjadi?
Angkutan perkotaan makin lama makin ditinggalkan oleh masyarakat karena berbagai sebab. Sebab paling menojol adalah faktor kenyamanan dan keamanan yang mestinya didapatkan oleh pemakai jasa angkutan, namun tidak pernah ada. Pembelian mobil pribadi yang memenuhi jalanan utama kota besar di Indonesia dan menimbulkan kemacetan mestinya bisa dihentikan dan dialihkan untuk investasi yang bisa menambah lapangan kerja baru. Mestinya kita bisa belajar dari negara Eropa dan Asia Timur (Jepang dan Korea) yang mampu mengatur lalu lintasnya dengan baik, karena nyaman dan amannya angkutan masal mereka termasuk budaya tepat waktu pada angkutan dan penumpang.

Masalah Utama Angkutan Umum
Problem utama perkotaan di Indonesia adalah kemacetan yang disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya tidak seimbangnya antara luas jalan dengan jumlah kendaraan baik pribadi maupun angkutan perkotaan seperti bis kota, mikrolet, becak, sepeda motor, dan taksi.
Menarik untuk mencari jawaban mengapa problem itu sampai saat ini tidak pernah diselesaikan oleh pemerintah pusat dan daerah khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya? Berbagai solusi telah dikerjakan seperti pembangunan jalan baru, pelebaran jalan, becak dan bajai dilarang melintas di jalur jalan utama, Roda dua ke jalur kiri (Safety Riding), pembangunan jembatan penyeberangan, pengadaan transportasi massal seperti busway, kereta api komuter (KRL), dan yang terakhir adalah pemanfaatan sungai sebagai alternatif mengurangi kemacetan di jalan perkotaan. Hal yang sama sedang dijajaki oleh pemerintah kota Surabaya.
Upaya itu ternyata belum mampu menyelesaikan problem kemacetan di perkotaan. Oleh karena itu perlu dicari solusi menyeluruh yang tepat sehingga solusi dari problem itu tidak parsial dan isidetil.
Ketika seorang penumpang memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumahnya di kota untuk memenuhi kebutuhannya, maka ia akan naik angkutan, entah itu kendaraan pribadi, angkutan kota, bahkan taksi sekalipun, tergantung kondisi dan pilihan yang bersangkutan. Jika mau cepat, aman dari gangguan, tidak berhenti di sembarang tempat, dan nyaman, maka pilihannya adalah naik kendaraan pribadi. Pada tingkatan selanjutnya dengan sedikit risiko adalah memilih naik “taksi” dan ojek. Jika punya keberanian dan uang pas-pasan maka pilihan penumpang adalah angkutan kota yang murah, tetapi keamanan dan kenyamanan tidak dijamin. Belum lagi penumpang harus berjuang menghirup bau solar, berdesak-desakan, dan menerima asap kendaraan yang dikeluarkan oleh angkutan lain di depannya.
Kondisi yang sama terjadi pada angkutan kereta api dengan berbagai tingkatan dan jenis kereta api yang dipilih. Meskipun bau, kereta ekonomi yang ke Jakarta dari Surabaya dan sebaliknya tetap penuh penumpang meskipun keamanan dan kenyamanan tidak didapatkan. Penyesalan baru muncul ketika mereka kehilangan barang bawaan yang nilainya banyak dari ongkos kereta api atau mereka kelelahan dan sakit karena faktor kelelahan selama perjalanan. Sama dengan orang yang kehilangan barang di kereta api kelas bisnis, mereka mengatakan mengapa aku tidak naik kelas eksekutif jika begini jadinya?
Ilustrasi itu menyinggung solusi psikologis penumpang dan sekaligus menjawab problem mengapa orang memilih angkutan alternatif selain bis kota yang dikenal tidak nyaman dan aman itu?
Alasan penumpang memilih angkutan alternatif dengan tidak naik angkutan kota, taksi, ojek, angguna, dan sejenisnya menjadi hal yang sangat penting. Pendapat dari orang yang memilih lebih baik naik motor atau kendaraan pribadi juga perlu diketahui.

Revitalisasi, Keamanan dan Kenyamanan
Kenyamanan dan keamanan merupakan alasan utama seseorang memutuskan memakai angkutan selain angkutan kota. Menggunakan mobil pribadi dan memakai sepeda motor ke tempat kerja adalah kenyamanan. Mereka tidak perlu takut kalau kehilangan HP, uang, dan barang berharga lainnya di angkutan kota. Mereka tidak mengeluarkan keringat dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Penggunaan sepeda motor sebagai transportasi alternatif dari sisi keamanan tidak sepenuhnya benar, karena sangat rentan dengan kecelakaan. Hanya saja dari keamanan dari pencopetan sedikit lebih baik dibanding bila menumpang angkutan kota.
Biaya naik mobil pribadi pasti tinggi dibanding naik angkutan umum, tetapi kost itu jika diakumulasi dengan kenyamanan dan keamanan yang diperoleh selama perjalanan jauh lebih rendah, karena jika mereka kehilangan di tengah perjalanan akan berpengaruh pada kondisi psikologis dan pikiran para penumpang. Akibatnya, produktivitas kerja tidak maksimal.
Oleh karena itu perlunya kenyamanan dan keamanan diciptakan di angkutan perkotaan. Citra negatif angkot yang penuh pencopet, para pemeras, dan berbagai tindakan kriminal yang selama ini melekat dapat diminimalkan, dengan catatan ada reposisi dan revitalisasi angkutan kota ke arah yang (humanis). Revitalisasi menjadi hal yang mutlak jika tidak ingin terus terpuruk di tengah membanjirnya jenis angkutan baru yang menawarkan kenyamanan dan keamanan. Jika masyarakat sudah aman dan nyaman di angkutan perkotaan, maka jenis angkutan ini akan diminati kembali oleh masyarakat umum kelas menengah ke atas, apalagi di tengah melambungnya harga minyak sebagaimana terjadi di negara-negara seperti Korea, Jepang, dan Eropa.


Tidak ada komentar: