Senin, 07 Januari 2008

BAU – BAU: IRONI IDENTITAS SEBUAH KOTA
Drs. La Ode Abidin dan La Ode Rabani

Refleksi
Untuk orang awam, mendengar nama kota Bau-Bau, maka langsung berpikir pasti kota itu bau. Bau-bau bisa diinterpretasikan “sangat bau” sehingga orang menyebut nama itu menjadi sebuah hal yang lumrah yang kemudian dijustifikasi masyarakat ”memang itu sangat bau”, sehingga pantas dinamakan dengan Bau-Bau. Masalah yang melekat pada nama kota ini (Bau-Bau), khususnya bagi orang yang tidak mengetahui proses historis penamaan kota yang saat ini telah menjadi kota adminstratif. Bahkan mungkin di antara anak muda (generasi muda) daerah ini tidak banyak yang memahami bagaimana dan mengapa kota ini dinamakan dengan kota Bau-Bau? Mengapa identitas ini terus dipertahanakan dengan konsekuensi mendapat predikat ”bau” dari masyarakat awam bahkan sebagin dari generasi muda yang lahir di kota Bau-Bau?
Pertanyaan selanjutnya adalah bau apa, wangi, sedap, atau busuk atau bau yang yang mengandung pengertian lain sehingga identitas itu begitu terkenal dan diterima oleh masyarakat kota ini secara luas. Sebuah pertanyaan besar yang hingga saat ini belum mendapat jawaban, khususnya generasi muda daerah ini yang masih mencari identitas.
Sebagai orang muda yang terusik dengan identitas itu tentu saja ingin mencari jawaban yang memuaskan dari sebuah pertanyaan itu, kapan kata bau-bau itu mulai dilembagakan dan diakui sebagai sebuah nama tempat di kota yang kini memiliki slogan “semerbak”. Konon kata itu pertama kali merupakan identitas sebuah perkampungan masyarakat pendatang yang bermukim di pinggir pantai. Daerah pemukiman itu sangat bau ketika para pendatang dari tempat lain datang ke daerah ini. Sampai di mana kebenarannya? Tulisan ini mencoba menelusurinya melalui sumber sejarah.
Informasi lain menyebutkan bahwa kata bau-bau berasal dari kata “bau” yang berarti disayang. Kata itu berasal dari orang-orang Bone di Sulawesi Selatan. Pendapat ini didasarkan pada nama seorang tokoh “Andi Bau” yang artinya kurang lebih Adik yang disayang atau secara spesifik bahwa daerah ini sangat disayang oleh orang-orang dari Bone. Kata Andi adalah sebutan untuk gelar bangsawan di Sulawesi Selatan (Bone). Jadi, Andi Bau adalah adik yang disayang. Masyarakat daerah ini disayang oleh para bangawan Bone. Konsekuensi yang muncul dari itu adalah mengakui dominasi kekuasaan Bone terhadap pembentukan identitas sosial kota ini. Atau sama saja mengakui dan melegitimasi kekuasaan Bone terhadap Bau-bau, lalu dimana peran institusi kekuasaan yang bernama kesultanan Buton?
Dari sumber lokal diperoleh informasi bahwa kata bau dalam bahasa Wolio berarti baru. Informasi ini memang masuk akal untuk diterima karena pusat kota pada awalnya di dalam benteng keraton Wolio kemudian berkembang ke arah pantai seiring dengan berkembangnya perdagangan dan pusat aktivitas ekonomi dominan berkembang di pantai. Pelabuhan beserta fasilitasnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan perdagangan dan aktivitas masyarakatnya. Konsekuensi dari perkembangan ini adalah makin berkembangnya wilayah di sekitar pelabuhan dan memudarnya aktivitas ekonomi di daerah di dalam benteng Keraton. Lama kelamaan pusat kota bergeser di sekitar pelabuhan.

Dari Kota Buton ke Kota Bau-Bau
Secara administratif, kita semua menyadari bahwa ibukota kabupaten Buton adalah Bau-Bau. Kota yang ada di Buton saat ini adalah kota Bau-Bau. Memang sering rancu seperti yang penulis katakan bahwa sulit membedakan mana kota Buton, mana pulau Buton dan mana kota Bau-Bau. Agar tidak menyulitkan, maka kita lebih mudah untuk menempatkan katagorisasi itu sesuai waktu dan tempat. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa memilah mana diantara ketiganya. Kota Buton berpusat di dalam kompleks Keraton Buton, pulau Buton (Butung) adalah pulau tempat/pusat Kerajaan/Kesultanan Buton, dan pada perkembangan kemudian, pulau ini dikenal dengan penghasil aspal. Selanjutnya kota inilah yang oleh Ligtvoet dinamakan sebagai kota Benteng dan kota Buton awal (early cities)
Kota Bau-Bau adalah kota yang terletak di pantai Buton sekarang yang dulu dikenal dengan pemukiman para pendatang (Wale). Pusat pemukiman ini berkembang menjadi pusat perniagaan dan tempat pendirian fasilitas pelabuhan pertama yang ada di pulau Buton. Di sekitar pemukiman itu, pada masa pemerintahan Hindia Belanda didirikan beberapa fasilitas administrasi untuk kepentingan perdagangan dan pelabuhan. Wilayah ini dikenal dengan kompleks pelabuhan Batu.
Mengapa tidak Buton? Nama Murhum adalah nama salah seorang sultan/penguasa kesultanan Buton. Ironi memang, ketika kita memikirkan semua itu. Saya hanya menyarankan agar ada persepsi yang sama mengenai identitas kota ini, karena masih ada orang dan mungkin sebagian besar dari kita tidak memahami identitas dan maksud pelabelan kota ini. Pemakaian nama Buton memang luas, akan tetapi orang lebih mengenal Buton dari pada Bau-Bau karena hasil aspalnya yang terkenal itu.
Sumber-sumber mengenai kota Bau-Bau dalam catatan memorie van overgave (memori serah-terima jabatan) yang dikeluarkan administratur pemerintah Hindia Belanda yang pernah bertugas di Buton sampai pada tahun 1937 tidak banyak yang ditemukan dan menyebut kata Bau-Bau. Hal yang sama juga terjadi pada masa pendudukan Jepang, dan awal kemerdekaan pun kata Bau-Bau belum begitu popular. Padahal kota yang mendapat label dan diberi nama Bau-Bau itu sudah berkembang menjadi pusat aministrasi pemerintahan Hindia Belanda sejak tahun 1870-an di mana seorang sekertaris pemerintah Hindia Belanda ditempatkan di Buton yang bernama A. Ligtvoet. Kota ini menjadi ramai pada tahun 1900-an dan puncaknya pada tahun 1911 ketika Buton dijadikan Ibukota Afdeling Oost Celebes (Sulawesi Timur).
Secara ekologis wilayah Buton terdiri dari daerah perbukitan dan sedikit daratan. Wilayah pantai Buton yang berkembang adalah Bau-Bau. Buton memiliki selat yang dinamakan selat Buton (straat van Boeton) sebagai pintu masuk ke pelabuhan. Selat ini dinilai cukup untuk dilewati oleh kapal dan memudahkan pengawasan terhadap aktivitas di pelabuhan. Di sekitar pelabuhan terdapat beberapa kampung yang letaknya relatif datar dan masyarakat kampung ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai pengrajin kuningan, gerabah, dan tukang besi.
Perubahan kerajaan Buton menjadi kesultanan yang bercirikan Islam terjadi pada tahun 1538-1591. Perubahan ini terjadi seiring dengan Islamisasi penduduk di kerajaan itu, sehingga kesultanan membangun Masjid di kompleks keraton (Nunuk Wijayanti, 1997; 49-50). Bangunan fisik lain yang ditemukan dalam komplek kesultanan Buton adalah benteng. Pembangunan benteng dilakukan sebagai upaya kesultanan dalam melindungi masyarakat dan pusat pemerintahan dari berbagai gangguan eksternal. Pembangunan ini dilakukan pada masa pemerintahan sultan Buton II (1591-1596) dan selesai pada masa pemerintahan sultan Buton III yang bernama Sultan Dayanu Ikhsanuddin (1597-1631) dengan areal mengelilingi keraton Buton (Berthyn Lakebo, (ed.), 1984; 64) . Fasilitas kota yang ikut berkembang adalah pasar dan pelabuhan untuk kepentingan perdagangan dan nelayan di Buton (Stibbe D.G. dan E.M. Uhlenbech, 1921; 342-347.
Jika sebuah kota lahir dari sebuah daerah yang terbuka untuk berbagai aktivitas dan jaringan ekonomi, politik, budaya, sosial, dan jaringan lainnya, maka kota Bau-Bau pun demikian. Kota Bau-Bau sejak masa kolonial Belanda telah menjadi center of network untuk berbagai kepentingan dan telah menjadi penarik bagi orang-orang di daerah sekitarnya untuk datang berdagang di kota itu. Berikut ini dikemukakan perkembangan pemukiman awal kota Bau-Bau yang dalam catatan Ligtvoet bermula dari nama sebuah sungai kemudian berkembang menjadi kampung hingga menjadi sebuah kota kolonial.
Jadi nama Bau-Bau sebenarnya sudah sejak lama ada dan tidak benar apa yang dikatakan oleh beberapa informan bahwa nama itu terkait dengan posisi Buton sebagai “adik” (makna ketergantungan) dari kerajaan Bone dan juga terkait dengan berbagai bau yang mewarnai interpretasi terhadap perkembangan kota itu.
Letak kota Bau-Bau berada di tempat orang pertama yang bermukim di Buton. Konon orang-orang tersebut berasal dari tanah Melayu. Tradisi lisan menyebutkan bahwa pemukiman awal masyarakat dibangun oleh empat pendatang dari Johor (Melayu) pada awal abad XV. Orang-orang Melayu itu mendirikan perkampungan di tepi pantai sekitar kota Bau-Bau. Keempat orang pendiri perkampungan itu ini dinamakan empat manusia pertama atau disebut mia pantamiana.

Catatan Akhir
Kota yang ada di pulau Buton (kota Buton) lahir dari sebuah pusat kekuasaan tradisional, yakni kota kerajaan dan berkembang sebagai kota Islam. Perkembangan kota yang ada di dalam benteng keraton itu diwarnai dengan simbol Islam berupa masjid dan masuknya raja ke dalam agama Islam dan bergelar sultan. Kota itulah yang selama ini dikenal luas sebagai kota Buton. Perkembangan awal kota itu berlangsung antara abad ke-14 sampai abad ke-17. Pada periode ini, secara politik kota Buton masih di bawah kontrol pemerintahan lokal, khususnya Kerajaan Buton yang pada periode itu menguasai hampir seluruh Sulawesi Tenggara.
Perkembangan kota Buton menjadi lambat ketika dominasi politik kolonial makin kuat terhadap kekuasaan sultan Buton yang dimulai pada pascapenandatanganan Perjanjian Bungaya I (1667) sampai Perjanjian Bungaya yang diperbaharui pada tahun 1824. Pada periode ini perkembangan politik lebih dominan. Buton harus menghadapi tiga kekuatan besar, yakni serangan Ternate di Timur, kerajaan Gowa – Bone di Barat, dan intervensi pemerintah kolonial yang semakin kuat.
Kota Bau-Bau berasal dari sebuah nama sungai, kemudian berkembang menjadi sebuah komunitas pemukiman dan berstatus kampung. Kampung Bau-Bau terletak di tepi sungai Bau-Bau, sebuah sungai yang menghubungkan daerah pantai dengan daerah pedalaman. Komoditi dagang yang berasal dari pedalaman pulau Buton melalui laut dan sungai.



Analisis Safril Kasim,
Perspektif Menuju Buton Raya
(sumber: Kendari exspress, 13 Jun 2007, 33 x , Komentar)

BERSAMA memang LEBIH BAIK
Hari ini tepat dua pekan pasca momentum yang cukup bersejarah bagi perjalanan agenda penyatuan kembali wilayah-wilayah ex-Kesultanan Buton dalam satu terminologi wilayah : Provinsi Buton Raya, Buton Muna, Sultra Kepulauan atau apapun namanya
dikemudian hari yang disepakati. Dua pekan lalu, tepatnya, Senin, 21 Mei 2007, tonggak momentum itu dipancangkan oleh tiga Kepala Daerah, masing-masing Walikota Bau-Bau, Drs. M.Z. Amirul Tamim, M.Si, Bupati Buton, Ir. Syafei Kahar, dan Bupati Wakatobi, Ir. Hugua, di Ibukota Kabupaten Buton, Pasarwajo.

Dua pekan berlalu, momentum 21 Mei itu masih menjadi perbincangan menarik bagi komunitas Buton yang ada di Kendari, selain upaya menyatukan gerakan dalam memberi warna bagi perjalanan pembangunan Kota Kendari Lima Tahun Kedepan. Momentum 21 Mei menjadi lebih menarik karena menjadi awal yang sangat kondusif dalam penyatuan dua figur yang memperoleh mandat rakyat untuk memimpin dan memberi arah pembangunan Tanah Buton, Amirul Tamim, Walikota Bau-Bau dan Syafei Kahar, Bupati Buton. Menarik karena kedua figur ini dicitrakan seolah-olah bersimpangan jalan secara tajam dan �saling mengganggu� dalam perjalanan kepemimpinan beliau berdua.

Amirul diundang untuk mempersentasekan kesiapan Bau-Bau untuk menjadi Ibukota cikal bakal provinsi baru itu. Dari berbagai segi, Bau-Bau sangat siap untuk menjadi sebuah Ibukota Provinsi, bahkan kesiapannya melebihi dua Ibukota Provinsi terbaru di Sulawesi yaitu Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Barat. Grand design pemanfaatan ruang di Kota Bau-Bau memang telah disiapkan sedemikian rupa untuk menjadi Ibukota. Penetapan dan Pengisian fungsi Bagian-Bagian Wilayah Kota (BWK) diarahkan untuk menjadikan Kota Bau-Bau sebagai Pintu Gerbang Ekonomi Kawasan Timur Indonesia secara umum, dan Wilayah Sulawesi Tenggara secara khusus. Pembangunan Infrastruktur Dasar dan Infrastruktur ekonomi kota terus digenjot yang berimplikasi pada peningkatan secara gradual angka-angka makro ekonomi kota. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tumbuh dengan sangat mengesankan, dari 2,52 % tahun 2003 naik menjadi 7,24 % tahun 2004 dan 7,93% tahun 2005, melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional. PDRB perkapita meningkat dari 5,261,390,75 tahun 2003 menjadi 7,359,023,52 tahun 2005, dan tentu saja jumlah penduduk miskin berkurang dari 22,3 tahun 2003 menjadi 19,21 tahun 2005.

Penyiapan Sumberdaya Manusia sebagai pelaku-pelaku pembangunan kota, hari ini dan kedepan menjadi agenda prioritas. Implikasinya adalah angka-angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bergerak kearah yang menggembirakan. Angka Harapan Hidup (AHH) bergerak naik dari 68,3 menjadi 69,3. Angka melek huruf (AMH) meningkat dari 93,4 % tahun 2004 menjadi 94,5 % tahun 2005 dan Kemampuan Daya Beli meningkat dari 589,1 menjadi 598,7. Selain itu, peningkatan SDM pada lingkup pemerintahan dilakukan dengan meningkatkan kualitas pendidikan aparat birokrasi sampai dengan level Master telah dilakukan dengan jumlah yang significant. Belum lagi dengan menyiapkan sejumlah reward bagi jajaran birokrasi dalam bentuk tunjangan daerah, dan bagi guru dilengkapi dengan tunjangan transportasi

Penyiapan SDM dan Pembangunan Ekonomi Kota, didukung dengan perbaikan kualitas Lingkungan Hidup Perkotaan dalam rangka menjadikan Bau-Bau sebagai Kota Hunian yang Nyaman, Asri, Sejuk dan Indah. Penataan ruang-ruang publik, penataan kaki lima tanpa harus ada gusur menggusur, serta penanganan sampah dan kebersihan kota menjadi agenda-agenda yang sangat terasa manfaatnya bagi masyarakat Kota Bau-Bau. Agenda peningkatan kualitas lingkungan hidup kedepan adalah Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang lebih banyak dengan kualitas yang baik, Penanganan Sampah Perkotaan Berbasis Masyarakat, Konservasi Daerah-Daerah Tangkapan Air, dan Revitalisasi DAS Bau-Bau sebagai icon lingkungan hidup Kota Bau-Bau. Peningkatan kualitas aparat pengelola lingkungan hidup juga kemudian menjadi sangat penting dalam rangka mengawal komitmen Pemerintah Kota Bau-Bau dalam bidang ini.

Komitmen Pemerintah Bau-Bau untuk menjadikan �halaman depan� Bau-Bau dengan konsep Waterfront City juga menjadi catatan tersendiri bagi keindahan Kota Bau-Bau hari ini. Pantai Kamali dengan segala assesorisnya, Pantai Lakeba dengan fasilitas restoran dan view alami laut dan desiran ombaknya, menjadikan halaman depan Bau-Bau menjadi sangat nyaman untuk dinikmati. Belum lagi kalau Kota Mara yang dalam proses perencanaan terwujud menjadi Kota Pantai yang indah, nyaman dan bersahabat, dengan Icon Masjid dan Islamic Centre sebagai penanda bahwa Kota Bau-Bau pernah menjadi sebuah Ibukota Negeri Kesultanan yang cukup disegani diseantero nusantara ini.

Tuntas. Dengan semangat kebersamaan Pemerintah dan Masyarakat, Bau-Bau hanya membutuhkan Lima Tahun masa penataan untuk siap menjadi sebuah Ibukota Provinsi Baru. Usai persentase, Tiga Tokoh Buton tersebut bergandengan tangan seolah menyatakan mereka telah siap untuk disaksikan masyarakatnya menjadi perekat pembangunan Tanah Buton kedepan. Ternyata, Amirul-Syafei adalah dua pribadi dan tokoh besar dengan kadar kenegarawanan yang teruji, paling tidak dalam konteks kebutonan. Citra bahwa selama ini mereka �berseberangan� adalah pencitraan yang di grand design oleh dan untuk kepentingan kekuasaan tertentu. Kita berharap, kedepan mereka akan saling mengikhlaskan. Tidak hanya beliau berdua, tetapi tidak kalah pentingnya adalah gerbong dibelakang beliau berdua. Hugua, sang saudara bungsu, dengan pengalaman dan kecerdasan fasilitasinya puluhan tahun, menjadi katalis yang sangat efektif dalam proses ini. Masyarakat Buton dimanapun menaruh harapan besar kepada kebersamaan beliau bertiga, yang mendapat mandat rakyat, untuk membawa Buton kearah yang lebih baik. Entitas kebutonan mesti bisa menjadi perekat, dalam bingkai kebhinekaan Indonesia dan bahkan dalam frame diversifitas global. Moment 21 Mei adalah sebuah penegasan akan bermartabatnya sebuah keihlasan untuk bersama. BERSAMA memang selalu LEBIH BAIK. Bukan begitu?***


Menciptakan Angkutan Perkotaan Humanis

Salah satu implikasi krisis ekonomi Indonesia tahun 1997 adalah menurunya daya beli dan mobilitas masyarakat. Kondisi ini ternyata berdampak pada sektor transportasi umum Indonesia, khususnya angkutan umum perkotaan.
Data angkutan kota berbagai jenis di Surabaya adalah sebagai berikut; Taksi 6.044, Bus kota 373 buah, Angguna 438 buah, dan Mikrolet 5.253. Data itu menunjukan bahwa 40 persennya tidak bisa difungsikan dan diparkir di garasi karena alasan bahan bakar naik dan penumpang lebih memilih beralih ke angkutan sepeda motor yang lebih mudah diperoleh dengan jalan di kredit.
Jika pertanyaan mengapa mereka memilih sepeda motor atau naik dan membeli mobil pribadi, maka jawaban dari pertanyaan itu bukan satu. Oleh karena itu pengelola angkutan perkotaan dan pemerintah yang selama ini menjadi komando berbagai kebijakan mestinya melakukan kajian terhadap kondisi itu, termasuk ketika Jawa Pos memuat foto terminal Joyoboyo. Mengapa hal ini terjadi?
Angkutan perkotaan makin lama makin ditinggalkan oleh masyarakat karena berbagai sebab. Sebab paling menojol adalah faktor kenyamanan dan keamanan yang mestinya didapatkan oleh pemakai jasa angkutan, namun tidak pernah ada. Pembelian mobil pribadi yang memenuhi jalanan utama kota besar di Indonesia dan menimbulkan kemacetan mestinya bisa dihentikan dan dialihkan untuk investasi yang bisa menambah lapangan kerja baru. Mestinya kita bisa belajar dari negara Eropa dan Asia Timur (Jepang dan Korea) yang mampu mengatur lalu lintasnya dengan baik, karena nyaman dan amannya angkutan masal mereka termasuk budaya tepat waktu pada angkutan dan penumpang.

Masalah Utama Angkutan Umum
Problem utama perkotaan di Indonesia adalah kemacetan yang disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya tidak seimbangnya antara luas jalan dengan jumlah kendaraan baik pribadi maupun angkutan perkotaan seperti bis kota, mikrolet, becak, sepeda motor, dan taksi.
Menarik untuk mencari jawaban mengapa problem itu sampai saat ini tidak pernah diselesaikan oleh pemerintah pusat dan daerah khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya? Berbagai solusi telah dikerjakan seperti pembangunan jalan baru, pelebaran jalan, becak dan bajai dilarang melintas di jalur jalan utama, Roda dua ke jalur kiri (Safety Riding), pembangunan jembatan penyeberangan, pengadaan transportasi massal seperti busway, kereta api komuter (KRL), dan yang terakhir adalah pemanfaatan sungai sebagai alternatif mengurangi kemacetan di jalan perkotaan. Hal yang sama sedang dijajaki oleh pemerintah kota Surabaya.
Upaya itu ternyata belum mampu menyelesaikan problem kemacetan di perkotaan. Oleh karena itu perlu dicari solusi menyeluruh yang tepat sehingga solusi dari problem itu tidak parsial dan isidetil.
Ketika seorang penumpang memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari rumahnya di kota untuk memenuhi kebutuhannya, maka ia akan naik angkutan, entah itu kendaraan pribadi, angkutan kota, bahkan taksi sekalipun, tergantung kondisi dan pilihan yang bersangkutan. Jika mau cepat, aman dari gangguan, tidak berhenti di sembarang tempat, dan nyaman, maka pilihannya adalah naik kendaraan pribadi. Pada tingkatan selanjutnya dengan sedikit risiko adalah memilih naik “taksi” dan ojek. Jika punya keberanian dan uang pas-pasan maka pilihan penumpang adalah angkutan kota yang murah, tetapi keamanan dan kenyamanan tidak dijamin. Belum lagi penumpang harus berjuang menghirup bau solar, berdesak-desakan, dan menerima asap kendaraan yang dikeluarkan oleh angkutan lain di depannya.
Kondisi yang sama terjadi pada angkutan kereta api dengan berbagai tingkatan dan jenis kereta api yang dipilih. Meskipun bau, kereta ekonomi yang ke Jakarta dari Surabaya dan sebaliknya tetap penuh penumpang meskipun keamanan dan kenyamanan tidak didapatkan. Penyesalan baru muncul ketika mereka kehilangan barang bawaan yang nilainya banyak dari ongkos kereta api atau mereka kelelahan dan sakit karena faktor kelelahan selama perjalanan. Sama dengan orang yang kehilangan barang di kereta api kelas bisnis, mereka mengatakan mengapa aku tidak naik kelas eksekutif jika begini jadinya?
Ilustrasi itu menyinggung solusi psikologis penumpang dan sekaligus menjawab problem mengapa orang memilih angkutan alternatif selain bis kota yang dikenal tidak nyaman dan aman itu?
Alasan penumpang memilih angkutan alternatif dengan tidak naik angkutan kota, taksi, ojek, angguna, dan sejenisnya menjadi hal yang sangat penting. Pendapat dari orang yang memilih lebih baik naik motor atau kendaraan pribadi juga perlu diketahui.

Revitalisasi, Keamanan dan Kenyamanan
Kenyamanan dan keamanan merupakan alasan utama seseorang memutuskan memakai angkutan selain angkutan kota. Menggunakan mobil pribadi dan memakai sepeda motor ke tempat kerja adalah kenyamanan. Mereka tidak perlu takut kalau kehilangan HP, uang, dan barang berharga lainnya di angkutan kota. Mereka tidak mengeluarkan keringat dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Penggunaan sepeda motor sebagai transportasi alternatif dari sisi keamanan tidak sepenuhnya benar, karena sangat rentan dengan kecelakaan. Hanya saja dari keamanan dari pencopetan sedikit lebih baik dibanding bila menumpang angkutan kota.
Biaya naik mobil pribadi pasti tinggi dibanding naik angkutan umum, tetapi kost itu jika diakumulasi dengan kenyamanan dan keamanan yang diperoleh selama perjalanan jauh lebih rendah, karena jika mereka kehilangan di tengah perjalanan akan berpengaruh pada kondisi psikologis dan pikiran para penumpang. Akibatnya, produktivitas kerja tidak maksimal.
Oleh karena itu perlunya kenyamanan dan keamanan diciptakan di angkutan perkotaan. Citra negatif angkot yang penuh pencopet, para pemeras, dan berbagai tindakan kriminal yang selama ini melekat dapat diminimalkan, dengan catatan ada reposisi dan revitalisasi angkutan kota ke arah yang (humanis). Revitalisasi menjadi hal yang mutlak jika tidak ingin terus terpuruk di tengah membanjirnya jenis angkutan baru yang menawarkan kenyamanan dan keamanan. Jika masyarakat sudah aman dan nyaman di angkutan perkotaan, maka jenis angkutan ini akan diminati kembali oleh masyarakat umum kelas menengah ke atas, apalagi di tengah melambungnya harga minyak sebagaimana terjadi di negara-negara seperti Korea, Jepang, dan Eropa.